Karya Tulis Ilmiah Kompetensi, Kepribadian Sosial dan Profesionalisme Guru

 

KARYA TULIS ILMIAH

KOMPETENSI, KEPRIBADIAN  SOSIAL
DAN PROFESIONALISME GURU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Nama : A B A S

NIM : 1001037154

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

PJJ UHAMKA – BOGOR

2011
KATA PENGANTAR

 

 

 

Syukur alhamdulillah Penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah ini.

Tugas Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka perolehan evaluasi akademik pada Mata Kuliah di lingkungan PJJ UHAMKA Bogor.

Dalam penjelasannya, Karya Tulis Ilmiah ini menguraikan sedikit banyak tentang materi profesi keguruan . Di dalammnya diuraikan secara terperinci tentang kerangka permasalahan mengenai kompetensi kepribadian, sosial dan profesional guru.

Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari curahan perhatian, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam merampungkan kesempurnaan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berperan. Atas segala bantuan dan partisipasinya, semoga Allah SWT berkenan membalasnya dengan balasan kebaikan yang berlipat-lipat. Amiin…

Penyusun juga menyadari dengan sepenuhya bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi substansi maupun sistematikanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sungguh sangat penyusun nantikan demi evaluasi di masa mendatang.

Akhirnya penyusun berharap, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat serta dapat dipertanggung jawabkan sebagai salah satu referensi pendidikan di khususnya lingkungan UPBJJ UHAMKA Bogor.

 

 

 

Bogor,   Juni 2011

 

Penyusun

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman

Halaman Jilid

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………         i

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………         ii

 

BAB I       PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang………………………………………………………………….        1

1.2.    Rumusan Masalah…………………………………………………………….

1.3.    Tujuan……………………………………………………………………………        2

1.4.    Manfaat ………………………………………………………………………….

1.5.    Metodologi Penulisan………………………………………………………..        2

1.6.    Sistematika Penulisan………………………………………………………..        2

 

BAB II      LANDASAN TEORI

2.1.    Kompetensi Kepribadian Guru……………………………………………..        3

2.2.    Kompetensi Sosial Guru……………………………………………………..        9

2.3.    Komponen Kompetensi Profesional………………………………………      15

2.4.    Hubungan Penguasaan Materi Dan Kemampuan
Mengajar…………………………………………………………………………      24

2.5.    Keputusan Situasional Dan Transaksional……………………………..      31

 

BAB III    PENUTUP

3.1.   Kesimpulan………………………………………………………………………      36

3.2.   Saran……………………………………………………………………………..      36

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1.    Latar Belakang

Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat berkaca. Dalam relasi interpersonal antar guru dan subjek didik tercipta situasi didik yang memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang menjadi contoh dan memberi contoh. Guru mampu menjadi orang yang mengerti diri siswa dengan segala problematikanya, guru juga harus mempunyai wibawa sehingga siswa segan terhadapnya. Hakikat guru pendidik adalah bahwa ia harus dapat digugu dan ditiru

Untuk mencapai fungsi ini, maka sudah seyogyanya seorang sosok guru mengerti fungsi kompetensi kepribadian guru sebagai seseorang yang memberikan bimbingan dan suri teladan, baik secara individu maupun bersama-sama untuk mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motif belajar serta dorongan untuk maju kepada anak didik.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap fungsi kompetensi kepribadian seorang guru harus diwujudkan dan dibina sebagai suatu modal dasar dalam pengembangan materi pendidikan yang diajarkannya sebagai sebuah profesi keguruan.

 

1.2.    Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana kompetensi, kepribadian, sosial dan profesional guru dalam pengaruhnya terhadap kegiatan pendidikan di sekolah?
  2. Unsur-unsur apa sajakah yang berpengaruh terhadap kompetensi, kepribadian, sosial dan profesional guru dalam pengaruhnya terhadap kegiatan pendidikan di sekolah?

 

1.3.    Tujuan

Tujuan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai salah satu upaya dalam rangka perolehan evaluasi akademik pada Mata Kuliah yang bersangkutan.
  2. Sebagai salah satu kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi, dengan lebih mengupayakan pendalaman materi praktik dan observasi.
  3. Sebagai salah satu upaya pengembangan diri pada mahasiswa dalam rangka penggalian materi dan pemahaman khususnya mengenai materi profesi keguruan.

 

1.4.    Manfaat

Manfaat yang diharapkan dapat tercapai dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini diantaranya adalah :

  1. Manfaat keilmuan, yaitu dari hasil karya tulis ini ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya bahan kajian.
  2. Manfaat untuk para guru, yaitu sebagai sumbangan pemikiran dalam memperkaya kompetensi dan landasan edukatif dalam meningkatkan efektivitas pendidikan.

 

1.5.    Metodologi Penulisan

Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah berdasarkan metode studi literatur, yaitu mencari bahan-bahan penulisan yang sekiranya mendukung terhadap pembahasan materi yang dijadikan pokok bahasan.

 

1.6.    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam beberapa teknik penulisan yaitu :

Bab I merupakan Bab Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

BAB II merupakan Bab Pembahasan, didalamnya diuraikan secara terperinci mengenai landasan teori dari beberapa kegiatan belajar yang menjadi pokok bahasan. Landasan yang dibahas terangkum dalam pembahasan mengenai kompetensi kepribadian guru, kompetensi social guru, komponen kompetensi professional, hubungan penguasaan materi dan kemampuan dasar mengajar serta keputusan situasional dan transaksional.

BAB III merupakan Bab Penutup, dijelaskan mengenai kesimpulan dari tema yang dibahas dan saran yang akan disampaikan.


BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1.    KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU

Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa mempunyai peran yang unik dalam kehidupan terlebih yang berkaitan dengan keberadaan dirinya. Di sekitar kehidupan tempat Anda tinggal mungkin ada saja orang yang sering menilai hitam dan putih seseorang berdasarkan perilaku yang ditampilkanya, baik secara individu maupun sosial. Demikian pula halnya dengan profesi guru masa kini dan masa lalu juga tentunya masa yang akan datang acap kali mendapat sorotan dari masyarakat di tempat guru berada.

Posisi kehidupan guru yang demikian itu tentunya akan mendapat penilaian yang beragam dari dunia sekitarnya sehingga di suatu masa guru begitu disanjung dan dipuja, sementara di masa lain guru dianggap rendah dan dipersalahkan. Padahal guru bukan manusia super, dia tidak lepas dari sisi kepribadiannya sebagai manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan.

Pendidikan yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan masyarakat memerlukan kompetensi dalam arti luas yaitu standar kemampuan yang diperlukan untuk menggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini Anda akan mempelajari tentang hakikat kompetensi kepribadian guru yang dapat ditetapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kompetensi kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-nilai (values) kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar. WR Houston (1974 : 4) mengemukakan bahwa kecakapan kerja direalisasikan dalam perbuatan yang bermakna, bernilai sosial dan yang memenuhi standar karakteristik tertentu yang diakui oleh kelompok profesinya atau oleh warga masyarakatnya.

  1. A.    PENGERTIAN

Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru. Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru harus dimaknai sebagai wujud sosok manusia yang utuh.

 

  1. B.    FUNGSI

Setiap subjek mempunyai pribadi yang unik, masing-masing mempunyai ciri dan sifat bawaan serta latar belakang kehidupan. Banyak masalah psikologis yang dihadapi peserta didik, banyak pula minat, kemampuan, motivasi dan kebutuhannya. Semuanya memerlukan bimbingan guru yang berkepribadian dapat bertindak  sebagai pembimbing, penyuluh dan dapat menolong peserta didik agar mampu menolong dirinya sendiri. Disinilah Guru adalah sebagai panutan yang harus digugu dan ditiru dan sebagai contoh pula bagi kehidupan dan pribadi peserta didiknya. Dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam system Amongnya yaitu guru harus :

Ing ngarso sungtulodo

Ing madyo mangun karso

Tut wuri handayani

 

Artinya bahwa guru harus menjadi contoh dan teladan, membangkitkan motif belajar siswa serta mendorong.memberikan motivasi dari belakang. Dalam arti Anda sebagai seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya pola panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Dalam hal ini siswa-siswa di sekolahnya, juga sebagai seorang guru ditunutut harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya serta harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya agar berani berjalan didepan dan sanggup bertanggung jawab.

Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat berkaca. Dalam relasi interpersonal antar guru dan subjek didik tercipta situasi didik yang memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang menjadi contoh dan memberi contoh. Guru mampu menjadi orang yang mengerti diri siswa dengan segala problematikanya, guru juga harus mempunyai wibawa sehingga siswa segan terhadapnya. Hakikat guru pendidik adalah bahwa ia digugu dan ditiru.

Berdasarkan uraian di atas, fungsi kompetensi kepribadian guru adalah memberikan bimbingan dan suri teladan, secara bersama-sama mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motif belajar serta dorongan untuk maju kepada anak didik.

 

  1. C.    RUANG LINGKUP

Untuk meningkatkan kompetensi, guru di tuntut untuk menatap dirinya dan memahami konsep dirinya. Seorang guru harus mampu berkaca pada dirinya sendiri, bila ia berkaca ia akan melihat bukan satu pribadi tertapi ada tiga pribadi yaitu :

  1. saya dengan konsep diri saya (self concept)
  2. saya dengan ide diri saya (self idea), serta
  3. saya dengan realita diri saya (self reality).

Ruang lingkup kompetensi kepribadian guru tidak lepas dari falsafah hidup, nilai-nilai yang berkembang di tempat seorang guru berada, tetapi ada beberapa hal yang bersifat universal yang mesti dimiliki oleh guru dalam menjalankan fungsinya sebagai mahluk individu (pribadi) yang menunjang terhadap keberhasilan tugas pendidikan yang diembannya.

Kemampuan pribadi guru menurut Sanusi (1991) mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
  2. Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dianut oleh seorang guru.
  3. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panitan dan teladan bagi para siswanya.

 

 

 

Kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai berikut :

  1. Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untuk meningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Guru memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Oleh karena itu perlu dikembangkan rasa percaya pada diri sendiri dan tanggung jawab bahwa ia memiliki potensi yang besar dalam bidang keguruan dan mampu  untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya.
  3. Guru senantiasa berhadapan dengan komunitas yang berbeda dan  beragam keunikan dari peserta didik dan masyarakatnya maka guru perlu mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat.
  4. Guru diharapkan dapat menjadi pasilitator dalam menumbuhkembangkan budaya berpikirkritis di masyarakat, saling menerima dalam perbedaaan pendapat dan menyepakatinya untuk mencapai tujuan bersama maka dituntut seorang guru untuk bersikap demokratis dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai permasalahan yang ada disekitarnya sehingga guru menjadi terbuka dan tidak menutup diri dari hal-hal yang berada diluar dirinya.
  5. Menjadi guru yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan, hal ini menuntut kesabaran dalam mencapainya.
  6. Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya.
  7. Guru mampu menghayati tujuan-tujuan pendidikan baik secara nasional, kelembagaan, kurikulum sampai tujuan mata pelajaran yang diberikannya.
  8. Hubungan manusiawi yaitu kemampuan guru untuk dapat berhubungan dengan orang lain atas dasar saling menghoarmati antara satu dengan yang lainnya.
  9. Pemahaman diri, yaitu kemampuan untuk memahami berbagai aspek dirinya baik yang positif maupun yang negatif. Kepribadian yang efektif akan terwujud apabila seseorang telah mampu memahami identitas dirinya.
  10. Guru mampu melakukan perubahan-perubahan dalamm mengembangkan profesinya sebagai inovator dan kreator.

 

Dalam hal pengembangan kompetensi pribadi, menurut BP3K (1975) guru harus memiliki :

  1. Pengetahuan tentang tatakrama sosial dan agamawi;
  2. Pengetahuan tentang kebudayaan dan tradisi;
  3. Hakikat demokrasi dan makna demokrasi Pancasila;
  4. Apresiasi dan ekspresi estetika;
  5. Kesadaran kewarganegaraan dan kesadaran sosial yang dalam;
  6. Sikap yang tepat tentang ilmu pengetahuan kerja; dan
  7. Menunjung tinggi martabat manusia.

 

2.2.    KOMPETENSI SOSIAL GURU

Manusia merupakan mahluk sosial (zoon politicon) menurut Aristoteles adalah mahluk yang senantiasa ingin hidup berkelompok. Pendapat senada menyatakan bahwa manusia adalah homo politicus.

Manusia dalam hal ini tidak bisa menyelesaikan segala permasalahannya sendiri, dia membutuhkan orang lain baik untuk memenuhi kebutuhannya maupun untuk menjalankan perannya selaku mahluk hidup. Maka, manusia perlu berinteraksi dengan yang lain dan senantiasa menjaga hubungan agar tetap berlangsung dalam suasana yang kondusif. Melalui proses komunikasi dengan lingkungan sekitarnya manusia diharapkan mampu bertahan hidup (survive) bahkan berkembang (growth) sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Guru sebagai bagian dari masyarakat merupakan salah satu pribadi yang mendapatkan perhatian khusus di masyarakat. Peranan dan segala tingkah laku yang dilakukan guru senantiasa dipantau oleh masyarakat. Guru memiliki kedudukan khusus di mata masyarakat. Oleh karena itu,  diperlukan sejumlah kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru dalam berinteraksi dalam lingkungan masayarakat di tempat dia tinggal.

Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru. Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan. Mengajar dan mendidik adalah tugas memanusiakan manusia. Guru harus mempunyai kompetensi sosisal karena guru adalah Penceramah Jaman (Langveld, 1955), lebih tajam lagi ditulis oleh Ir. Soekarno dalam tulisan “Guru dalam masa pembangunan” menyebutkan pentingnya guru dalam masa pembangunan adalah menjadi masyarakat. Oleh karena, itu tugas guru adalah tugas pelayanan manusia.

Guru di mata masyarakat pada umumnya dan para peserta didik merupakan panutan dan anutan yang perlu dicontoh dan merupakan suri tauladan dalam kehidupannya sehari-hari.

Guru merupakan tokoh dan tipe mahluk yang diberi tugas dan beban membina dan membimbing masyarakat ke arah norma yang berlaku. Guru perlu memiliki kompetensi sosial untuk berhubungan dengan masyarakat dalam rangka menyelenggaraka proses belajar mengajar yang efektif karena dengan dimilikinya kompetensi sosial tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar sehingga jika ada keperluan dengan orang tua peserta didik atau masyarakat tentang masalah peserta didik yang perlu diselesaikan tidak akan sulit menghubunginya.

Dalam hal ini Anda sebagai mahasiswa keguruan perlu memahami beberapa perilaku guru berkaitan dengan kompetensi sosial yang menunjang terhadap keberhasilan tugas prifesi keguruan di masyarakat.

 

  1. A.    PENGERTIAN

Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Lebih dalam lagi kemampuan sosial ini mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

 

  1. B.    FUNGSI KOMPETENSI SOSIAL GURU

Guru ada dan hidup di masyarakat. Masyarakat dalam proses pembangunan sekarang ini menganggap guru sebagai anggota masayarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan yang cukup luas, yang mau ikut bserta secara aktif dalam proses pembangunan. Guru diharapkan menjadi pelopor di dalam pelaksanaan pembangunan.

Untuk menjadi seorang guru/calon guru perlu menyadari bahwa guru tidak mungkin lepas dari kondisi sosial di masyarakat yang sifatnya kompleks. Untuk itu peran dan fungsi guru yang perlu dipelajari adalah sebagai berikut :

  1. Motivator dan Inovator dalam Pembangunan Pendidikan
  2. Perintis dan Pelopor Pendidikan
  3. Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pengetahuan
  4. Pengabdian

 

  1. C.    RUANG LINGKUP KOMPETENSI SOSIAL GURU

Achmad Sanusi (1991) mengungkapkan kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Menurut D. T. Amijaya (1984) kompetensi kemasyarakatan atau kompetensi sosial seorang guru, sudah barang tentu berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Ia terwujud dalam bentuk partisipasi sosial seorang guru dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat di mana ia berada, baik secara formal maupun informal.

Jenis-jenis kompetensi sosial yang harus dimiliki guru menurut Cece Wijaya (1994) adalah sebagai berikut :

  1. Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik
  2. Bersikap simpatik
  3. Dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah
  4. Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan
  5. Memahami dunia sekitarnya (lingkungan)

 

2.3.    KOMPONEN KOMPETENSI PROFESIONAL

Kompetensi professional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru. Ada beberapa pandangan para ahli mengenai kompetensiprofesional. Menurut Cooper ada 4 komponen kompetensi professional, yaitu : a) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (b) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya; (c) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya; dan (d)  mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar. Sedangkan menurut (Johnson, 1980) mencakup : (a) penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan yang dajarkan dari bahan yang diajarkannya itu; (b)  penguasan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; dan (c) penguasan proses-proses kependidikan, keguruan pembelajaran siswa. Serta menurut Depdikbud, (1980) ada 10 kemampuan dasar guru, yaitu : (a) penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya, (b) pengelolaan program belajar mengajar, (c) pengelolaan kelas, (d) penggunaan media dan sumber pembelajaran, (e) penguasaan landasan-landasan kependidikan, (f) pengelolaan interaksi belajar mengajar, (g) penilaian prestasi siswa, (h) pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, (i) pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.

Dari beberapa pandangan tersebut diatas dapat dipelajari secara rinci sebagai berikut :

 

  1. A.    PENGUASAAN BAHAN BIDANG STUDI

Kompetensi pertama yang harus dimiliki seorang guru adalah penguasaan bahan bidang studi. Penguasan ini menjadi landasan pokok untuk keterampilan mengajar. Yang dimaksud dengan kemampuan menguasai bahan bidang studi menurut Wijaya (1982) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menyintesiskan, dan mengevaluasi sejumlah pengetahuan keahlian yang diajarkannya.

Ada dua hal dalam menguasai bahan bidang studi :

  1. Menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah

Untuk menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah dapat dilakukan dengan cara :

  1. mengkaji bahan kurikulum bidang studi;
  2. mengkaji isi buku-buku teks bidang studi yang bersangkutan;
  3. melaksanakan kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam kurikulum bidang studi yang bersangkutan.
  4. Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi. Hal ini dilakukan dengan cara :
    1. mempelajari ilmu yang relevan;
    2. mempelajari aplikasi bidang ilmu ke dalam bidang ilmu lain (untuk program-program srudi tertentu);
    3. mempelajari cara menilai kurikulum bidang studi.
    4. B.    PENGELOLAAN PROGRAM BELAJAR MENGAJAR

Kemampuan mengelola program belajar mengajar mencakup kemampuan merumuskan tujuan instruksional, kemampuan mengenal dan menggunakan metode mengajar, kemampuan memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat, kemampuan melaksanakan program belajar mengajar, kemampuan mengenal potensi (entry behavior) peserta didik, serta kemampuan merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial.

Secara rinci, menurut Sciever (1991) : kemampuan mengelola program belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara berikut ini.

  1. Merumuskan tujuan instruksional. Kemampuan ini dilakukan dengan cara_:
    1. mengkaji kurikulum bidang studi,
    2. mempelajari cirri-ciri rumusan tujuan instruksional,
    3. mempelajari tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan, serta
    4. merumuskan tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.
    5. Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :
      1. mempelajari macam-macam metode mengajar, dan
      2. menggunakan macam-macam metode mengajar.
      3. Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :
        1. mempelajari kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar,
        2. menggunakan kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar,
        3. merencanakan program pelajaran, serta
        4. menyusun satuan pelajaran
        5. Melaksanakan program belajar mengajar. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :
          1. mempelajari fungsi dan peran guru dalam proses belajar mengajar,
          2. menggunakan alat Bantu belajar mengajar,
          3. menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar,
          4. memonitor proses belajar peserta didik, serta
          5. menyesuaikan rencana program pengajaran dengan situasi kelas.
          6. Mengenal kemampuan (entry behavior)anak didik. Kemampuan ini dilakukan dengan cara :
            1. mempelajari tingkat perekembangan dan factor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi belajar,
            2. mempelajari prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik, serta
            3. menggunakan prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik.
            4. Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial. Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :
              1. mempelajari faktor-faktor penyebab kesulitan belajar,
              2. mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik,
              3. menyusun rencana pengajaran remedial, serta
              4. melaksanakan pengajaran remedial.
    6. C.    PENGELOLA KELAS

Kemampuan ini menggambarkan keterampilan guru dalam merancang, menata dan mengatur sumbere-sumber belajar, agar tercapai suasana pengajaran yang efektif dan efisien. Jenis kemampuan yang harus dimiliki guru adalah :

  1. Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran

Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut ini.

  1. Mempelajari macam-macam pengaturan tempat duduk dan setting ruangan kelas sesuai dengan tujuan-tujuan instruksional yang hendak dicapai, serta
  2. Mempelajari criteria penggunaan macam-macam pengaturan tempat duduk dan setting ruangan.
  3. Menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif.

Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut ini.

  1. Mempelajari factor-faktor yang mengganggu iklim belajar mengajar yang kondusif.
  2. Mempelajari strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat preventif.
  3. Menggunakan strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat preventif.
  4. Menggunakan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat kuratif.
  5. D.   PENGELOLAAN DAN PENGGUNAAN MEDIA SERTA SUMBER BELAJAR

Kemampuan ini pada dasarnya merupakan kemampuan menciptakan kondisi belajar yang merangsang agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Ada enam jenis kemampuan memahami media dan sumber belajar, menurut Cece Wijaya (1994) yaitu :

  1. Mengenal, memilih dan menggunakan media
  2. Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
  3. Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar.
  4. Khusus untuk guru IPA, dapat mengembangkan laboratorium
  5. Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
  6. E.    PENGUASAAN LANDASAN-LANDASAN KEPENDIDIKAN

Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan berkaitan dengan kegiatan sebagai berikut :

  1. Mempelajari konsep dan masalah pendidikan dan pengajaran dengan sudut tinjauan sosiologis, filosofis, histories dan psikologis.
  2. Mengenal fungsi sekolah sebagai lembaga sosial yang secara potensial dapat memajukan masyarakat dalam arti luas serta pengaruh timbal balik antar sekolah dan masyarakat.
  3. Mengenal karakteristik peserta didik baik secara fisik maupun psikologis.
  4. F.    MAMPU MENILAI PRESTASI BELAJAR MENGAJAR

Kemampuan menilai prestasi belajar mengajar perlu dimiliki oleh guru. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan mengukur perubahan tingkah laku peserta didik dan kemampua mengukur kemahiran dirinya dalam mengajar dan dalam mebuat program. Dalam setiap pekerjaan evaluasi ada tiga sasaran yang hendak dicapai yaitu :

  1. prestasi berupa pernyataan dalam bentuk angka dan nilai tingkah laku,
  2. prestasi mengajar berupa pernyataan lingkungan yang mengamatinya melalui penghargaan atas prestasi  yang dicapainya, serta
  3. keunggulan program yang dibuat guru, karena relevan dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran adalah sebagai berikut,

  1. Mempelajari fungsi penilaian.
  2. Mempelajari bermacam-macam teknik dan prosedur penilaian.
  3. Menyusun teknik dan prosedur penilaian.
  4. Mempelajari kriteria pemilihan teknik dan prosedur penilaian
  5. Mengunakan teknik dan prosedur penilaian
  6. Mengolah dan menginterpretasi hasil penilaian
  7. Menggunakan hasil-hasil penilaian untuk perbaikan proses belajar mengajar.
  8. Menilai teknik dan prosedur penilaian
  9. Menilai keefektifan program pengajaran.
  10. G.    MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LEMBAGA DAN PROGRAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH

Di samping melaksanakan proses belajar mengajar, menurut Nawawi (1989), diharapkan guru mebantu Kepala Sekolah dalam menghadapi berbagai kegiatan pendidikan lainnya yang digariskan dalam kurikulum, guru perlu memahami pula prinsip-prinsip dasar tentang organisasi dan pengelolaan sekolah, bimbingan dan penyuluhan termasuk bimbingan karier, program kokurikuler dan ekstrakurikuler, perpustakaan sekolah serta hal-hal yang terkait.

  1. H.   MENGUASAI METODE BERFIKIR

Metode dan pendekatan setiap bidang studi berbeda-beda. Menurut Reynold (1990) metode dan pendekatan berpikir keilmuan bermuara pada titik tumpu yang sama. Oleh karena itu, untuk dapat menguasai metode dan pendekatan biang-bidang studi guru harus menguasai metode berpikir ilmiah secara umum.

  1. I.     MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN MENJALANKAN MISI PROFESIONAL

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus terus-menerus mengembangkan dirinya agar wawasannya menjadi luas sehingga dapat mengikuti perubahan dan perkembangan profesinya yang didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

  1. J.     TERAMPIL MEMBERIKAN BANTUAN DAN BIMBINGAN KEPADA PESERTA DIDIK

Bantuan dan bimbingan kepada peserta didik sangat diperlukan agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, guru perlu memahami berbagai aspek dan teknik bimbingan belajar dan dapat memilihnya dengan tepat untuk membantu para peserta didik.

Ada dua hal yang perlu dimiliki dalam memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserat didik, yaitu :

  1. Mengenal fungsi dan program layanan dan penyuluhan di sekolah, yang dapat dilakukan dengan cara :
    1. mempelajari fungsi bimbingan dan penyuluhan di sekolah
    2. mempelajari program layanan bimbingan di sekolah
    3. mengkaji persamaan dan perbedaan fungsi, kewenangan, serta tanggung jawab antar guru dan pembimbing sekolah.
    4. Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah, hal ini :
      1. mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik di sekolah
      2. menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah, terutama bimbingan belajar.
    5. K.    MEMILIKI WAWASAN TENTANG PENELITIAN PENDIDIKAN

Guru perlu mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan dan pengajaran, terutama hal-hal yang menyangkut pelaksanaan tugas-tugas pokoknya di sekolah. Setiap guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami hasil-hasil penelitian itu dengan tepat sehingga mereka perlu memiliki wawasan yang memadai tentang prinsip-prinsip dasar dan cara-cara melaksanakan penelitian pendidikan.

Kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut :

  1. mempelajari dasar-dasar penggunaan metode ilmiah dalam penelitian pendidikan
  2. mempelajari teknik dan prosedur penelitian pendidikan terutama sebagai konsumen hasil-hasil penelitian pendidikan
  3. menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk perbaikan pengajaran
  4. Mampu menyelesaikan penelitian sederhana untuk kepentingan pengajaran

Perkembangan ilmu dan teknologi sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penelitian. Penelitian sederhana yang dilakukan oleh guru itu mencakup pengamatan kelas pada waktu mengajar, mengidentifikasi faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar, menganalisis alat penilaian untuk mengembangkannya lebih efektif.

  1. L.    MAMPU MEMAHAMI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Guru dituntut memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ciri-ciri dan perkembangan peserta didik, lalu menyesuaikan bahan yang akan diajarkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Menurut Rochman Natawijaya (1988:7), pemahaman yang dimaksud mencakup pemahaman tentang kepribadian murid serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, perbedaan individual di kalangan peserta didik, kebutuhan, motivasi dan kesehatan mental peserta didik, tugas-tugas perkembangan yang perlu dipenuhi serta fase-fase perkembangan yang dialami peserta didik.

  1. M.   MAMPU MENYELENGGARAKAN ADMINISTRASI SEKOLAH

Di samping kegiatan akademis, guru harus mampu menyelenggarakan administrasi sekolah. Menurut Ary Gunawan (1989) guru diharapkan :

  1. mengenal secara baik pengadministrasian kegiatan sekolah
  2. membantu dalam melaksanakan kegiatan administrasi sekolah
  3. mengatasi kelangkaan sumber belajar bagi dirinya dan bagi sekolah
  4. membimbing peserta didik merawat alat-alat pelajaran dan sumber belajar secara tepat.

Untuk lebih memahami penyelenggaraan administrasi sekolah, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :

  1. mempelajari struktur organisasi dan administrasi persekolahan
  2. mempelajari fungsi dan tanggung jawab administrasi guru, kepala sekolah, dan kantor-kantor dinas pendidikan.
  3. mempelajari peraturan-peraturan kepegawaian pada umumnya dan peraturan kepegawaian guru pada khususnya.
  4. menyelenggarakan administrasi sekolah.
  5. mempelajari prinsip-prinsip dan prosedur pengelolaan program akademik.
  6. N.   MEMILIKI WAWASAN TENTANG INOVASI PENDIDIKAN

Seorang guru diharapkan berperan sebagai inovator atau agen perubahan maka guru perlu memiliki wawasan yang memadai mengenai berbagai inovasi dan teknologi pendidikan yang pernah dan mungkin dikembangkan pada jenjang pendidikan, M. C. Ryan (1990). Wawasan ini perlu dimiliki oleh setiap guru agar dalam melaksanakan tugasnya mereka tidak cenderung bertindak secara rutin, tetapi selalu memikirkan cara-cara baru yang mungkin dapat diterapkan di sekolah, yang sekaligus dapat meningkatkan kegairahan kerja peserta didik.

  1. O.   BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN

Guru harus memiliki kemampuan mengambil keputusan pendidikan agar ia tidak terombang ambing dalam ketidakpastian. Semua tindakannya akan memberikan dampak tersendiri bagi peserta didik sehingga apabila guru tidak berani mengambil tindakan kependidikan, siswa akan menjadi korban kebimbangan.

  1. P.    MEMAHAMI KURIKULUM DAN PERKEMBANGANNYA

Salah satu tugas guru adalah melaksanakan kurikulum enggan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, guru perlu memahami konsep-konsep dasar dan langkah-langkah pokok dalam pengembangan kurikulum.

  1. Q.   MAMPU BEKERJA BERENCANA DAN TERPROGRAM

Guru dituntut untuk dapat bekerja teratur, tahap demi tahap, tanpa menghilangkan kreativitasnya. Rencana dan program tersebut akan menjadi pola kerja guru sehingga tahap pencapaian pendidikan dapat dinilai dan dijadikan umpan balik bagi kelanjutan peningkatan tahap pendidikan.  Keteraturan dan keterlibatan kerja ini pun akan memberikan warna dalam proses pendidikan atau proses belajar mengajar. Dengan urutan pekerjaan yang jelas, guru diharapkan dapat disiplin dalam bertindak, berpakaian dan berkarya.

  1. R.    MAMPU MENGGUNAKAN WAKTU SECARA TEPAT

Makna tepat waktu disini bukan sekedar masuk dan keluar kelas tepat pada waktunya, melainkan juga guru harus pandai membuat program kegiatan dengan durasi dan frekuensi yang tepat sehingga tidak membosankan. Karakteristik in juga hanya dapat dipakai melalui praktik pembinaan yang cukup banyak dan pengetahuan yang baik hanya sebatas pengetahuan yang akan disajikan kepada guru.

Komponen kompetensi professional tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat gugus kompetensi professional yang mempunyai :

  1. pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia meliputi komponen nomor B, E, F, H, J, M;
  2. pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, meliputi komponen nomor A, E, H, I, O;
  3. sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, meliputi komponen nomor B, D, R, S.
  4. keterampilan dalam teknik mengajar, meliputi komponen nomor B, D, R, S.

 

2.4.    HUBUNGAN PENGUASAAN MATERI DAN KEMAMPUAN MENGAJAR

Mutu pendidikan semakin banyak bergantung kepada keadaan gurunya. Guru adalah factor penentu keberhasilan belajar disamping alat, fasilitas, sarana da kemampuan siswa itu sendiri, termasuk partisifasi orang tua dan masyarakat. Menyangkut factor guru, banyak keterampilan yang harus dimilikinya, harus dikuasai dengan baik agar proses pendidikannya menjadi penuh bermakna dan menjadi relevan dengan tujuan dan gahan ajarannya.

Penguasan materi menjadi landasan pokok seorang guru untuk keterampilan mengajar. Penguasan materi/bahan ajar dapat dibentuk dengan membaca buku-buku pelajaran.

 

  1. A.    PENGUASAAN MATERI

Salah satu komponen kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai seorang profesional adalah menguasai bahan pelajaran serta konsep-konsep dasar keilmuannya (Depdikbud, 1980). Menurut Johnson (1980) penguasaan materi terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang akan diajarkannya itu. Dengan demikian untuk menguasai materi pelajaran diperlukan penguasan materinya itu sendiri.

Ada dua cara memandang materi atau bahan ajar, yaitu pertama dari sudut isi bahan ajar, dan kedua dari sudut cara pengorganisasian bahan ajarnya.

Dilihat dari sudut isi materi, bahan ajar dapat digolongkan kedalam enam jenis, seperti berikut.

  1. Fakta

Fakta adalah bahan yang isinya terdiri  atas sejumlah fakta atau informasi yang kebenarannya tidak dapat diragukan lagi untuk diperdebatkan. Misalnya tahun-tahun sejarah atau peristiwa-peristiwa.

  1. Konsep

Konsep adalah bahan bidang studi yang isinya berupa gagasan, ide, pendapat, teori atau dalil. Konsep itu bersipat abstrak, namun akan menjadi nyata jika diwujudkan dalam bentuk benda atau perbuatan. Misalnya konsep tentang bilangan bulat yang ganjil yang dilambangkan dalam angka 2, 4, 6 dan 1, 3, 5 dan seterusnya.

  1. Prinsip

Prinsip adalah tuntunan praktis bagi terselenggaranya perbuatan tertentu seperti dalam belajar dan mengajar. Bahan bidang studi prinsip merupakan bahan yang memberi landasan bagi terwujudnya suatu perbuatan yang diharapkan sehingga setiap tindakan yang dilakukan dapat di control dengan baik. Contohnya prinsip belajar mengajar.

  1. Keterampilan

Keterampilan terdiri dari keterampilan-keterampilan tertentu yang harus dikuasai, terutama yang menyangkut keterampilan motorik, seperti keterampilan mengetik, mengatur spasi, memukul bola dan lari cepat. Bahan bidang studi keterampilan banyak terdapat dalam bidang studi kejuruan. Cara mempelajarinya pada umumnya dengan tugas dan latihan.

  1. Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah adalah bahan bidang studi yang mengandung unsur pemecahan masalah. Misalnya dalam pelajaran IPA, Ibu Reni memberikan tugas kelompok kepada para siswa untuk membuat kesimpulan mengenai bagaimana cara untuk memanfaatkan sampah. Pokok bahasan ini dipelajari dengan metode pemecahan masalah. Peserta didik ditugasi untuk berpikir dan berbuat dan kemudian diakhiri oleh kesimpulan.

  1. Proses

Proses adalah bahan yang melukiskan proses terjadinya sesuatun seperti proses terjadinya perubahan warna, proses terjadinya hujan, proses pengendapan atau penguapan. Bahan bidang studi proses bersumber dari pengalaman. Cara mempelajarinya adalah dengan praktikum di laboratorium atau studi lapangan.

 

  1. B.    KEMAMPUAN MENGAJAR

Dalam menentukan metode belajar mengajar yang akan dipakai, terelebih dahulu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Apakah yang sepatutnya dijelaskan agar siswa mengetahui materi/bahan ajar yang berupa konsep, teori dan lain-lain?
  2. Tingkah laku apa yang diharapkan dapat di kuasai pada siswa dalam pelajaran ini?
  3. Bahan bidang studi atau pokok bahasan apa yang harus dipelajari siswa agar tujuan pembelajaran tercapai?
  4. Metode apa yang paling cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran?

 

Untuk itu ada beberapa kemampuan yang perlu dibentuk dalam diri siswa antara lain yang berkaitan dengan kemampuan kognitifnya, hal ini dapat dicapaiu dengan memberikan bahan ajar yang berupa konsep-konsep. Kemampuan psikomotor yang berhubungan dengan aktivitas siswa dapat dicapai dengan memberikan materi yang dapat membangkitkan kreatifitas, dalam bentuk latihan olahraga, latihan pertukangan dan lain-lain yang bersifat praktik, serta memebrikan pemahaman yang mendalam mengenai etika dan norma kehidupan yang menunjang pembentukjan aspek afektif. Kemampuan afektif ini dapat diperoleh melalui pelajaran agama, kebudayaan, ediologi Negara.

Untuk memberikan kejelasan dalam menyampaikan bahan ajar, perlu difahami tujuan belajar siswa dan secara lebih luas lagi memahami bentuk tujuan pendidikan, baik yang bersifat nasional, kelembagaan, kurikulum maupun tujuan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab guru. Dan hal ini kemampuan merumuskan tujuan pengajaran menjadi bekal bagi guru dalam menjabarkan konponen pengajaran lainnya sehingga seluruh komponen pembelajaran saling berkait dalam suatu sistem pembelajaran.

 

Untuk meperoleh keterampilan ini dapat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Latihan menganalisis tugas-tugas belajar.
  2. Latihan merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran umum yang berpusat pada hasil belajar yang diharapkan.
  3. Latihan menetapkan indikator-indikator yang sesuai dengan tingkah laku yang spesifik dari kata kerja yang dupakai oleh tujuan pembelajaran umum.
  4. Latihan memilih indikator-indikator yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
  5. Latihan merumuskan tujuan pembelajaran khusus pada indicator- indikator terpilih.

 

  1. C.    MENGENAL DAN MAMPU MENGGUNAKAN METODE MENGAJAR

Mengenal dan sanggup menggunakan metode mengajar adalah kemampuan dasar guru yang paling utrama dalam meraih sukses di sekolah. Guru yang tidak mengenal metode mengajar jangan diharapkan dapat melaksanakn tugas mengajar sebaik-baiknya. Dari penelitian mengenai pelaksanan kurikulum SD 1975 diperoleh informasi bahwa guru yang hanya menguasai bahan bidang studi tanpa mengenal metode mengajar, akan kurang berhasil dan membosankan dalam mengajar.

Kaitan hubungan antar penguasaan materi ajar dengan kemampuan mengajar adalah sebagai berikut :

  1. Penguasan materi menjadi landasan pokok seorang guru untuk memiliki kemampuan mengajar.
  2. Guru yang memiliki wawasan yang mendalam terhadap materi ajar akan lebih yakin di dalamk merumuskan tujuan belajar mengajar di kelas.
  3. Guru yang sudah menguasai betul materi ajar yang akan disampaikan kepada siswa akan berusaha memperhatikan kebutuhan dan kemampuan siswa yang dihadapinya dengan lebih bijaksana.
  4. Guru yang menguasai materi dengan baik senantiasa mencoba berbagai metode untuk diterapkan sesuai dengan perkembangan situasi di kelas dan tidak terlalu terikat dengan patokan persiapan mengajar yang sudah dirumuskan sebelum memasuki kelas.
  5. Guru yang menguasai betul materi ajar akan lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi ajarnya.

 

2.5.    KEPUTUSAN SITUASIONAL  DAN TRANSAKSIONAL

Dalam menerapkan suatu kompetensi, katakanlah melaksanakan program belajar mengajar, diperlukan lebih daripada sekedar keterampilan. Pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam satu jam petemuan memerlukan pengetahuan dan sikap tertentu. Disamping keterampilan teknis, aspek-aspek kepribadian lainnya seperti nilai-nilai dan temperamen berpengaruh terhadap suatu kompetensi. Bahkan seorang guru di dalam kesempatan yang berbeda mungkin menerapkan sesuatu perilaku mengajar secara bervariasi sesuai dengan tujuan, bahan pelajaran, peralatan, dan terlebih lagi siswa yang bervariasii.

Untuk mewujudkan seperangkat pengalaman belajar, seorang guru perlu mengambil keputusan-keputusan tentang apa dan bagaimana pengalaman belajar yang dimaksud akan diwujudkan, berdasarkan analisis-situasi, antara lain berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan disampaiakn, waktu serta fasilitas yang tersedia dan perilaku bawaan (entry behavior) para siswa sdehingga tersusunlah suatu rencana persiapan mengajar. Keputusan yang diambil guru ketika merancang semua ini disebut keputusan situasional.

Perbuatan professional kependidikan dikatakan bersifat transaksional dalam arti tergantung pada pihak-pihak dan kondisi yang terlibat secara aktual di dalam suatu peristiwa kependidikan. Keputusan yang diambil guru untuk menyesuaikan dengan kondisi kelas tersebut di sebut keputusan transaksional.

Keputusan yang bersifat transaksional ini memerlukan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan umpan balik yang diperoleh guru dari interaksinya dengan siswa maupun interaksi antar siswa, sementara kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Kedudukan proses pengambilan keputusan situasional dan transaksional dalam kegiatan belajar mengajar telah digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar seorang guru membuat perencanaan pengajaran yang bersifat situasional berdasarkan :

  1. identifikasi kebutuhan-kebutuhan dan minat-minat siswa,
  2. tujuan-tujuan performan nsiswa,
  3. karakteristik materi,
  4. ketersediaan fasilitas, ruang dan waktu, serta
  5. kemampuan guru sendiri

 

Perencanaan yang sudah dibuat guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan, ternyata dalam pelaksanaan tidak selalu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Untuk itu, guru dituntut mampu menyesuaikan berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi secara actual dan berkembang di lingkungan yang mempengaruhi terhadap kegiatan belajar mengajar. Peristiwa yang berkembang secara actual dalam proses belajar mengajar di kelas memungkinkan guru melakukanb penyesuaian yang bersifat transaksional dengan faktor-faktor yang menentukan di dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya guru lebih kreatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Faktor-faktor penentu aktualisasi peristiwa belajar mengajar dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan penjelasan gambar diatas, selanjutnya perlu dipahami bahwa semua proses kegiatan belajar mengajar di kelas tidak terlepas dari proses keputusan yang diambil oleh guru baik ketika mempersiapkan ataupun ketika melaksanakannya di kelas.

Memang banyak dari apa yang harus dilakukan oleh guru selalu berkaitan dengan pengambilan keputusan. Di masa lalu banyak keputusan yang diambil oleh para guru cenderung harus diambil atas dasar pertimbangan jangka pendek, dari waktu ke waktu atau kejadian ke kejadian, yang sering kali bersifat kebijaksanaan. Keputusan jangka pendek atau jangka panjang menjadi semakin penting, baik sebelum pelajaran dimulai, selama pelajaran berlangsung maupun setelah pelajaran berakhir.

Keputusan situasional berkaitan dengan keputusan yang dibuat oleh guru sebelum pembelajaran dimulai sedangkan keputusan transaksional lebih menekankan pada tindakan selama pelajaran berlangsung yang merupakan penyesuaian terhadap situasi yang muncul dalam PBM dengan mengaitkan pada persiapan pelajaran yang telah dibuat guru.

Guru membuat perencanaan pengajaran suatu bidang studi berdasarkan tuntutan kurikulum dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dan minat siswa, merumuskan tujuan-tujuan performan siswa, terutama tujuan pembelajaran khusus baik yang menyangkut aspek kognitif, psikomotor maupun afektifnya, mengembangkan suatu unit pengajaran berdasarkan topik/pokok bahasan yang akan disampaikan yang dituangkan dalam bentuk suatu satuan pelajaran (stapel).

Persiapan yang dilakukan oleh guru sebelum melaksanakan PBM di kelas merupakan suatu keputusan situasional, sedangkan kegiatan guru dalam menyesuaikan kegiatan  belajar mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembangn di kelas merupakan suatu keputusan transaksional.

 

BAB III

PENUTUP

        Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari materi yang telah diuraikan tersebut diantaranya adalah :

Pendidikan yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan masyarakat memerlukan kompetensi dalam arti luas yaitu standar kemampuan yang diperlukan untuk menggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam melaksanakan tugasnya.

Kompetensi kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-nilai (values) kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar.

Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari.

Kemampuan pribadi guru mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
  2. Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dianut oleh seorang guru.
  3. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panitan dan teladan bagi para siswanya.

 

        Saran

Saran yang hendak disampaikan berdasarkan uraian di atas diantaranya adalah :

  1. Hendaknya terdapat upaya penggalian kompetensi bagi para mahasiswa sebagai calon guru ataupun yang berstatus sebagai guru yang dilakukan dalam workshop, pelatihan dan stadium general, yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai fungsi dan peran guru dilihat dari segi kompetensitas dan profesionalitasnya.
  2. Hendaknya ada pelaksanaan praktek lapangan sebagai wujud penerapan dari materi dan teori yang telah diperoleh dengan bimbingan secara langsung dari pihak senioritas atau pihak yang berwenang.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Djam’an Saturi, dkk., Buku Materi Pokok MKDK4005/2SKS/Modul 1-6 Edisi 1, Profesi Keguruan, Universitas Terbuka, Jakarta, 2009.

 

About these ads

About kelompok28bgr

Apan aink mah Aink...
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s